Kapuas Hulu Detik Kalbar.Id – Di usianya yang genap 30 tahun pada 2026, Kecamatan Puring Kencana seharusnya telah menunjukkan kemajuan pembangunan yang signifikan. Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Kondisi infrastruktur di wilayah perbatasan ini dinilai sangat memprihatinkan dan jauh tertinggal.
Sebagai salah satu beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Puring Kencana justru belum merasakan pembangunan yang merata. Perbandingan kondisi infrastruktur dengan wilayah perbatasan negara lain bahkan diibaratkan seperti “bumi dan langit”.
Hingga 31 Maret 2026, kondisi jalan baik jalan negara maupun jalan kabupaten di wilayah ini masih jauh dari layak. Jalan negara yang menghubungkan Desa Laja Sandang hingga Desa Sungai Antu, serta jalan kabupaten dari Nanga Kantuk menuju Jaung Ran sepanjang kurang lebih 50,6 kilometer, mengalami kerusakan di berbagai titik.
Kerusakan terparah berada di Desa Sungai Mawang, tepatnya di Dusun Melancau. Di wilayah ini, terdapat dua jembatan kritis yakni Jembatan Sungai Rugan dan Sungai Melancau yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Jembatan Sungai Rugan saat ini sudah tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Sementara untuk kendaraan roda dua, kondisi jembatan sangat membahayakan dan berpotensi menimbulkan kecelakaan. Jika tidak segera diperbaiki, akses transportasi di jalur tersebut dikhawatirkan akan terputus total.
Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu rute terdekat yang menghubungkan Nanga Kantuk dengan Desa Sungai Antu. Meski terdapat alternatif jalan lain melalui jalur kabupaten maupun akses perkebunan sawit, namun kondisinya juga tidak sepenuhnya memadai.
Masyarakat Puring Kencana mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan dan harapan kepada pihak terkait, baik melalui pemerintah desa maupun dalam berbagai forum. Namun hingga kini, belum ada langkah nyata yang dirasakan masyarakat.
Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah yang kerap beralasan pada efisiensi, masyarakat berharap adanya kepedulian dari perusahaan perkebunan yang beroperasi di wilayah tersebut sejak tahun 2013. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), perusahaan dinilai memiliki peran penting dalam membantu pembangunan infrastruktur dasar, khususnya perbaikan dan pembangunan jembatan di Dusun Melancau.
Ketiadaan jembatan di Sungai Melancau bahkan berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama saat musim hujan dan banjir yang menghambat mobilitas warga.
Namun demikian, harapan masyarakat terhadap kontribusi perusahaan dinilai belum mendapat respon nyata. Aspirasi yang disampaikan selama ini seolah hanya didengar tanpa tindak lanjut.
Masyarakat kini berharap pemerintah dan pihak terkait tidak lagi menutup mata terhadap kondisi tersebut. Perbaikan infrastruktur dinilai mendesak demi keselamatan warga serta mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan
Editor ( Ami Dar) Darmadi

Social Footer